I. PENGERTIAN
- berfikir seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain
- Merupakan cara individu untuk menganalisa, menginngat dan menggunakan informasi mengenai kejadian atau peristiwa-peristiwa sosial(Dyne &Baron 2000)
- adalah pengkodean, penyimpanan, pencarian, dan pengolahan, di otak, dari informasi yang berkaitan dengan individu sejenis lainnya , atau anggota dari spesies yang sama. (wikipedia)
Contohnya, saat kita melihat seseorang dari suatu ras tertentu (Cina, misalnya), kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi bahwa orang tersebut memiliki crri/sifat tertentu. Kapasitas kognitif kita juga terbatas. Selain itu, terdapat suatu hubungan antara kognisi dan afeksi (bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa). Dalam menganalisa suatu peristiwa, terdapat 3 proses, yaitu:
1. attention : proses pertama kali terjadi dimana individu memperhatikan gejala-gejala sosial yang ada disekelilingnya
2. encoding : memasukkan apa yang diperhatikan ke dalam memorinya dan menyimpannya
3. retrieval : apabila kita menemukan gejala yang mirip kita akan mengeluarkan ingatan kita dan membandingkan apabila ternyata sama maka kita bisa mengatakan sesuatu mengenai gejala tersebut atau bisa juga individu mengeluarkan ingatannya ketika akan menceritakan peristiwa yang dialami.
Dalam kognisi sosial dikenal istilah skema yang merupakan semacam kerangka atau gambaran yang membantu individu dalam mengorganisasikan informasi-informasi suatu fenomena yang diperhatikan individu. Terdapat 3 macam jenis skema, yaitu:
1. person : gambaran mengenai atribut-atribut atau ciri-ciri dari individu lain atau diri individu itu sendiri
2. roles : gambaran mengenai tugas dan peranan individu-individu di sekeliling kita
3. events : gambaran mengenai peristiwa-peristiwa sosial yang dialami atau dilihat individu sehari-hari.
II. KOMPONEN DASAR KOGNISI SOSIAL
A. Skema Sosial
Komponen dasar kognisi social adalah skema (schema). Skema adalah sruktur mental yang membantu kita mengorganisasi informasi social, dan menuntun pemrosesannya. Skema berkisar pada suatu subyek atau tema tertentu.. dalam otak kita, skema itu seperti scenario, yang memiliki alur. Skema di otak kita terbenuk berdasarkan pengalaman yang pernah kita alami sendiri atau diceritakan oleh orang lain. Contohnya, skema kita tentang McD membuat kita tau bagaimana cara untuk makan di McD sehingga begitu kita datang ke McD kita langsung ke kasir untuk memesan makanan. Skema yang kita miliki akan mempengaruhi sikap kita pada sesuatu.
Skema menimbulkan efek yang kuat terhadap 3 proses dasar: perhatian atau atensi (attention), pengkodean (encoding), dan mengingat kembali (retrieval). Skema terbukti berpengaruh terhadap semua aspek dasar kognisi social (Wyer & Srull, 1994). Dalam hubungannya dengan atensi, skema seringkali berperan sebagai penyaring: informasi yang konsisten dengan skema lebih diperhatikan dan lebih mungkin untuk masuk ke dalam kesadaran kita. Informasi yang tidak cocok dengan skema kita seringkali diabaikan (Fiske, 1993), kecuali iinformasi itu sangat ekstrem. Pengkodean—informasi apa yang dimasukkan ke dalam ingatan—informasi yang menjadi focus atensi lebih mungkin untuk disimoan dalam ingatan jangka panjang. Mengingat kembali informasi (retrieval)—informasi apa yang paling siap untuuk diingat—secara umum, orang melaporkan informasi yang konsisten dengan skema mereka, namun kenyataannya, informasi yang tidak konsisten dengan skema juga dapat secara kuat muncul dalam ingatan.
Skema juga memiliki kelemahan (segi negative). Skema mempengaruhi apa yang kita perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan apa yang kita ingat, sehingga terjadi distorsi pada pemahaman kita terhadap dunia social. Skema memainkan peran penting dalam pembentukan prasangka, dalam pembentukan satu komponen dasar pada stereotip tentang kelompok-kelompok social tertentu. Skema seringkali sulit diubah—skema memiliki efek bertahan (perseverance effect), tidak berubah nahkan ketika menghadapi informasi yang kontradiktif. Kadangkala skjema bisa memberikan efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling) yaitu skema membuat dunia social yang kita alami menjadi konsisten dengan skema yang kita miliki. Contoh efek bertahan, ketika kita gagal kita berusaha menghibur diri sendiri dengan berkata, “kamu hebat kok, ini karena pertandingan yang tidak adil”, dsb. contoh ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy)—ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi, skema guru untuk siswa yang minoritas yang menyebabkan guru memperlakukan siswa minoritas itu secara berbeda (kurang positif) sehingga menyebabkan prestasi siswa minoritas ini menurun. Stereotip tidak hanya memiliki pengaruh—nsmun bisa melalui efek pemaastian dirinya, stereotip juga membentuk realitas social.
B. Heuristic
Kejenuhan informasi (information overloaded) adalah suatu keadaan di mana pengolahan informasi kita telah berada di luar kapasitas kemampuan yang sesungguhnya sehingga menuntut system kognitif yang lebih besar daripada yang bisa diolah. Berbagai strategi untuk melebarkan kapasitas kognitif harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu: harus menyediakan cara yang cepat dan sederhana untuk dapat mengolah informasi social dalam jumlah yang banyak, dan harus dapat digunakan—harus berhasil. Namun, yang paling berguna adalah Heuristic yaitu aturan sederhana untuk membuat keputusan kompleks atau untuk menarik kesimpulan secara cepat dan seakan tanpa usaha yang berarti. Heuristic ada 2 macam:
1. Heuristic keterwakilan (heuristic representativeness) yaitu sebuah strategi untuk membuat penilaian berdasarkan pada sejauh mana stimuli atau peristiwa tersebut mempunyai kemiripan dengan stimuli atau kategori yang lain. Contoh: kita mengenal Ratna sebagai pribadi yang teratur, lramah, rapi, memiliki perpustakaan di rumahnya dan sedikit pemalu. Namun kita tidak mengetahui pekerjaannya. Mungkin kita langsung menilainya sebagai pustakawan. Dengan kata lain, kita menilai berdasarkan: semakin mirip seseorang dengan ciri-ciri khas orang-orang dari suatu kelompok, semakin mungkin ia merupakan bagian dari kelompok tersebut.
2. Heuristic ketersediaan (availability heuristic) yaitu sebuah strategi untuk membuat keputusan berdasarkan seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dapat dimunculkan dalam benak kita. Heuristic ini dapat mengarahkan kita untuk melebih-lebihkan kemungkinan munculnya peristiwa dramatis, namun jarang, karena peristiwa itu mudah masuk ke pikiran kita. Contoh: banyak orang merasa lebih takut tewas dalam kecelakaan pesawat daripada kecelakaan di darat. Hal ini karena fakta bahwa kecelakaan pesawat jauh lebih dramatis dan menyedot lebih banyak perhatian media. Akibatnya, kecelakaan pesawat lebih mudah terpikir sehingga berpengaruh lebih kuat dalam penilaian individu. Heuristic ini berhubungan dengan proses pemaparan awal (priming)—meningkatnya ketersediaan informasi sebagai hasil dari sering hadirnya rangsangan atau peristiwa-peristiwa khusus. Pemaparan awal bisa muncul bahkan ketika individu tidak sadar akan adanya rangsangan yang telah dipaparkan sebelumnya—disebut juga pemaparan awal otomatis.
Cara lainnya adalah dengan pemrosesan otomatis (automatic processing) yang terjadi ketika, setelah berpengalaman melakukan suatu tugas atau mengolah suatu onformasi tertentu yang seakan tanpa perlu usaha yang besar, secara otomatis dan tidak disadari. Contohnya: saat pertama kali belajar sepeda, kita memerlukan perhatian khusus dalam mengendarainya. Seiring dengan berkembangnya keahlian bersepeda kita, kita dapat melakukan tugas-tugas lain seperti berbicara sambil bersepeda. Begitu teraktivasi, skema dapat menimbulkan efek perilaku yang otomatis.
C. Sumber-Sumber Yang Berpotensi Menimbulkan Kesalahan Dalam Kognisi Social
1. Bias negativitas, yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih pada informasi yang negative. Dibandingkan dengan informasi positif, satu saja informasi negative akan memiliki pengaruh yang lebih kuat. Contoh: kita diberitahu bahwa dosen yang akan mengajar nanti adalah orang yang pintar, masih muda, ramah, baik hati, cantik, namun diduga terlibat skandal seks. Bias negative menyebabkan kita justru terpaku pada hal yang negative dan mengabaikan hal-hal positif.
2. Bias optimistic, yaitu suatu predisposisi untuk mengharapkan agar segala sesuatu dapat berakhir baik. Kebanyakan orang percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan yang lebih besar dari orang lain untuk mengalami peristiwa negative dan kemungkinan lebih kecil untuk mengalami peristiwa negative. Contoh: pemerintah seringkali mengumumkan rencana yang terlalu optimis mengenai penyelesaian proyek-proyek besar—jalan, bandara baru, dsb. hal ini mencerminkan kesalahan perencanaan. Namun, ketika individu memperkirakan akan menerima umpan balik atau informasi yang mungkin negative dan memiliki konsekuensi penting, tampaknya ia justru sudah bersiap menghadapi hal yang buruk (brancing of loss) dan menunjukkan kebalikan dari pola optimistic: mereka menjadi pesimis.
3. Kerugian yang mungkin terjadi akibat terlalu banyak berpikir. Terkadang terlalu banyak berpikir dapat menyeret kita ke dalam kesulitan kognoitif yang serius. Mencoba berpikir sistematis dan rasional mengenai hal-hal penting adalah penting.
4. Pemikiran konterfaktual, yaitu memikirkan sesuatu yang berlawanan dari keadaan sekarang. Efek dari memikirkan “apa yang akan terjadi seandainya…”. Contoh: ketika selamat dari kecelakaan pesawat, Andi justru memikirkan, “bagaimana bila saya tidak langsung terjun tadi, saya sudah mati pastinya, lalu bagaimana nasib keluarga saya sepeninggalan saya?”, dsb. pemikiran konterfaktual dapat secara kuat berpengaruh terhadap afeksi kita. Inaction inertia—kelambanan apatis—muncul ketika individu memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu sehingga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang positif.
5. Pemikiran magis, yaitu berpikir dengan melibatkan asumsi yang tidak didasari alasan yang rasional. Contoh: supaya ujian lulu, Raju berdoa banyak-banyak dan memakai banyak cincin.
6. Menekan pikiran, yaitu usaha untuk mencegah pikiran-pikiran tertentu memasuki alam kesadaran. Proses ini melibatkan 2 komponen, yaitu: proses pemantauan yang otomatis yang mencari tanda-tanda adanya pemikiran yang tidak diinginkan yang memaksa untul muncul kea lam kesadaran. Ketika pikiran tersebut terdeteksi, proses kedua terjadi, yaitu mencegah agar pikiran tersebut tetap berada di luar kesadaran tanpa mengganggu pikiran yang lain. Contoh:anti yang ikut program diet menekan pikirannya akan makanan-makanan manis.
D. Afeksi dan Kognisi
Perasaan kita dan suasana hati memiliki pengaruuh yang kuat terhadap beberapa aspek kognisi, dan kognisi juga berperan kuat pada perasaan dan suasana hati kita. Suasana hati saat ini dapat secara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsang yang baru pertama kali kita temui. Contoh: ketika kiota sedang bergembira dan berkenalan dengan orang baru, penilaian kita terhadap orang tersebut pastinya lebih baik dibanding saat kita berkenalan dengannya ketika kita bersedih. Pengaruh afek lainnya adalah pengaruh pada ingatan. Ingatan yang bergantung pada suasana hati (mood-dependent memory) yaitu apa yang kita ingat saat berada dalam suasana hati tertentu, sebagian besar ditentukan oleh apa yang kita pelajari sebelumnya ketika kita berada dalam suasana hati tersebut. Pengaruh kedua dikenal dengan efek kesesuaian suasana hati (mood-congruence effects) yaitu kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif ketika berada dalam suasana hati positif dan informasi negattif ketika berada dalam suasana hati yang negative. Suasana hati saat ini juga berpengaruh pada komponen kognisi lain yaitu kreativitas. Informasi yang emosional (emotional contamination) yaitu suatu proses di mana penilaian, emosi atau perilaku kita dipengaruhi oleh pemrosesan mental yang tidak disadari dan tidak terkontrol (Wilson & Brekke, 1994).
Kognisi juga dapat mempengaruhi afeksi yang dijelaskan oleh teori emosional dua factor (two-factor theory of emotion) (Schachter, 1964) yang menjelakan bahwa kita sering tidak mengetahui perasaan atu sikap kita sendiri. Sehingga, kita menyimpulkannya dari lingkungan—dari situasi di mana kita mengalami reaksi-reaksio internal ini. Contohnya: ketika kita mengalami perasaan tertentu atas kehadiran seseorang yang menarik, kita menyimpulkan bahwa kita sedang jatuh cinta. Selain itu, kognisi bisa mempengaruhi emosi melalui aktivitas skema yang di dalamnya terdapat komponen afektif yang kuat. Skema atau stereotip yang teraktivasi dengan kuat dapat sangat berpengaruh pada perasaan atau suasana hati kita saat ini. Selain itu, Pikiran isa mempengaruhi afeksi melibatkan usaha kita dalam mengatur emosi kita.
III. TEORI KOGNISI SOSIAL
A. Sejarah dan Orientasi
Pada tahun 1941 Miller dan Dollard mengusulkan teori belajar sosial. Pada tahun 1963 Bandura dan Walters memperluas teori pembelajaran sosial dengan prinsip belajar observasional dan penguatan mengganti. Bandura memberikan konsep tentang efektivitas diri pada tahun 1977, sementara ia menyangkal teori pembelajaran tradisional untuk memahami pembelajaran.
Teori Kognitif Sosial relevan untuk komunikasi kesehatan. Pertama, teori berkaitan dengan kognitif, aspek emosional dan aspek perilaku untuk memahami perubahan perilaku. Kedua, konsep SCT menyediakan cara untuk penelitian perilaku baru dalam pendidikan kesehatan. Akhirnya, ide untuk wilayah teoritis lainnya seperti psikologi dipersilakan untuk memberikan wawasan baru dan pemahaman.
B. Asumsi dan kegunaan Teori Kognisi
Teori kognitif sosial menjelaskan bagaimana orang memperoleh dan mempertahankan pola-pola perilaku tertentu, sementara juga menyediakan dasar bagi strategi intervensi (Bandura, 1997). Mengevaluasi perubahan perilaku tergantung pada faktor lingkungan, orang dan perilaku. SCT menyediakan kerangka kerja untuk merancang, melaksanakan dan mengevaluasi program.
Lingkungan mengacu pada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Ada lingkungan sosial dan fisik. lingkungan sosial meliputi anggota keluarga, teman dan kolega. Lingkungan fisik adalah ukuran ruangan, suhu lingkungan atau ketersediaan makanan tertentu. Lingkungan dan situasi menyediakan kerangka bagi perilaku pemahaman (Parraga, 1990). Situasi ini mengacu pada representasi kognitif atau mental dari lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Situasi ini persepsi seseorang dari renda, waktu, ciri-ciri fisik dan aktivitas (Glanz et al, 2002).
Tiga faktor lingkungan, orang dan perilaku yang terus-menerus mempengaruhi satu sama lain. Perilaku bukan sekedar hasil dari lingkungan dan orang itu, seperti lingkungan tidak hanya hasil orang dan perilaku (Glanz et al, 2002). lingkungan yang menyediakan model untuk perilaku belajar. observasi terjadi ketika seseorang menyaksikan tindakan orang lain dan bala bahwa orang yang menerima (Bandura, 1997). Konsep perilaku dapat dilihat dalam banyak hal kemampuan Behavioral. Berarti bahwa jika seseorang untuk melakukan perilaku dia harus tahu apa perilaku itu dan memiliki kemampuan untuk melakukan itu.
C. Konsep Teori Kognitif Sosial
Lingkungan: Faktor-faktor fisik eksternal untuk orang tersebut; Menyediakan peluang dan dukungan sosial
Situasi: Persepsi lingkungan; benar mispersepsi dan mempromosikan bentuk-bentuk sehat
kemampuan Perilaku: Pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan perilaku tertentu; mempromosikan penguasaan pembelajaran melalui pelatihan keterampilan
Harapan: Nilai-nilai bahwa tempat-tempat orang pada hasil yang diberikan, insentif; Hadir hasil perubahan yang memiliki arti fungsional
Kontrol diri: Peraturan Pribadi-diarahkan perilaku tujuan atau kinerja; Menyediakan kesempatan bagi pemantauan diri, penetapan tujuan, pemecahan masalah, dan self-penghargaan
Belajar Mengamati: perolehan perilaku yang terjadi dengan mengamati tindakan dan hasil perilaku orang lain; peran model kredibel Termasuk perilaku yang ditargetkan
Bala bantuan: Tanggapan perilaku seseorang yang menambah atau mengurangi kemungkinan terjadinya kembali; Promosikan diri dimulai reward dan insentif
Efektivitas diri: Kepercayaan seseorang dalam melakukan suatu perilaku tertentu; perilaku perubahan Pendekatan dalam langkah-langkah kecil untuk memastikan keberhasilan
tanggapan mengatasi Emosional: Strategi atau taktik yang digunakan oleh seseorang untuk menangani rangsangan emosional; memberikan pelatihan dalam pemecahan masalah dan stress manajemen
determinisme reciprocal: Interaksi dinamis pribadi, perilaku, dan lingkungan di mana perilaku dilakukan; mempertimbangkan beberapa jalan untuk mengubah perilaku, termasuk lingkungan, keterampilan, dan perubahan pribadi.
D. MANFAAT DAN IMPLIKASI
Dewasa-anak interaksi sangat penting dalam membentuk pembangunan. teori sosial kognitif memiliki implikasi besar bagi masa depan pendidikan dan perkembangan anak secara umum. Jika anak-anak belajar dialami sendiri melalui orang lain dan urutan penguatan, kemudian metode interaksi dewasa-anak dan strategi dapat dimanipulasi untuk menciptakan hasil yang paling disukai. Guru dapat menggunakan teori ini untuk mendorong perilaku tertentu dalam kelas sosial, dan orang tua dapat mengelilingi anak-anak dengan model peran positif untuk membantu pengaruh perilaku. Karena teori kognitif sosial mencakup pengertian bahwa seseorang tidak memiliki banyak kontrol internal dan pribadi atas perilaku sendiri, adalah penting bahwa orang lain mengakui dan mendukung pilihan individu, kehendak bebas, motivasi dan self-peraturan di atas dilihat lebih deterministik manusia perilaku.
http://psikologi-online.com/apakah-sosial
http://arihdyacaesar.wordpress.com/2010/01/13/resume-konsep-dasar-perilaku-sosial-persepsi-dan-kognisi-sosial/
http://annisaavianti.wordpress.com/2010/07/10/kognisi-sosial-berpikir-mengenai-dunia-sosial/
Source: Glanz et al, 2002, p169. Sumber: Glanz et al, 2002, p169.
http://www.emory.edu/EDUCATION/mfp/eff.html.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.ehow.com/about_5434270_theory-social-cognition.html
Source: Pajares (2002). Overview of social cognitive theory and of self-efficacy . Sumber: Pajares (2002) keampuhan. Ikhtisar teori kognitif sosial dan diri. 12-8-04. 12-8-04.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar